Pengertian dan Definisi Hujan Asam (Update 2018)

Definisi Hujan Asam

Pengertian hujan asam dan dampaknya yang di timbulkan Hujan asam adalah hujan yang mempunyai kadar keasaman (pH) yang rendah pada setiap tetes airnya. Keadaan keasaman hujan yang normal pada umumnya mempunyai pH 5,6 sehingga dapat diartikan bahwa jika hujan yang memiliki pH kurang dari 5,6 berarti adalah hujan asam. Penelitian baru-baru ini menunjukan pH hujan sudah berubah yang asalnya dari 6 menjadi ke 4 ini disebabkan banyaknya gas buangan yang menimbulkna hujan asam. Gas yang menyebabkan hujan asam ini biasanya dihasilkan oleh bencana alam seperti letusan gunung berapi, kalau letusan gunung berapi itu penyebabnya mungkin wajar-wajar saja karena reksi dari alam, tapi penyebab yang paling parah adalah ulah manusia misalnya seperti asap kendaraan bermotor, asap pabrik atau industri dan lain-lain.
Terjadinya hujan asam tentunya ada penyebabnya, seperti penjelasan tadi bahwa penyebab hujan asam diantaranya seperti bencana alam salah satunya letusan gunung berapi dan paling besar ulah manusia misalnya seperti asap industri dan asap kendaraan bermotor. Untuk itu dibutuhkan kesadaran semua orang untuk dapat mencegah dan menanggulangi hujan asam ini, jadi gunakanlah peralatan atau mesin yang ramah lingkungan, gunakanalah kendaraan bermotor seperlunya dan lain-lain, jadi intinya cintailah lingkungan kita.

2.2         Proses Terbentuknya Hujan Asam



Deposisi asam terjadi apabila asam sulfat, asam nitrat, atau asam klorida yang ada do atmosfer baik sebagai gas maupun cair terdeposisikan ke tanah, sungai, danau, hutan, lahan pertanian, atau bangunan melalui tetes hujan, kabut, embun, salju, atau butiran-butiran cairan (aerosol), ataupun jatuh bersama angin.

Asam-asa tersebut   berasa dari   prekursor   hujan   asa dari   kegiatan   manusia (anthropogenic) seperti emisi pembakaran batubara dan minyak bumi, serta emisi dari kendaraan bermotor. Kegiatan alam seperti letusan gunung berapi juga dapat menjadi salah satu penyebab deposisi asam. Reaksi pembentukan asam di atmosfer dari prekursor hujan asamnya melalui reaksi katalitis dan photokimia. Reaksi-reaksi yang terjadi cukup banyak dan kompleks, namun dapat dituliskan secara sederhana seperti dibawah ini.

2.2.1.      Pembentukan Asam Sulfat (H2SO4)



Gas SO2, bersama dengan radikal hidroksil dan oksigen melalui reaksi  photokatalitik di atmosfer, akan membentuk asamnya.


SO2 + OH → HSO3 HSO3 + O2 → HO2 + SO3


SO3 + H2O →  H2SO4


Selanjutnya apabila diudara terdapat Nitrogen monoksida (NO) maka radikan hidroperoksil

(HO2) yang terjadi pada salah satu reaksi diatas akan bereaksi kembali seperti: NO + HO2 → NO2 + OH
Pada reaksi ini radikal hidroksil akan terbentuk kembali, jadi selama ada NO diudara, maka reaksi radikal hidroksil akan terbantuk kembali, jadi semakin banyak SO2, maka akan semakin banyak pula asam sulfat yang terbentuk.

2.2.2      Pembentukan Asam Nitrat (HNO3)



Pada siang hari, terjadi reaksi photokatalitik antara gas Nitrogen dioksida dengan radikal hidroksil.

NO2 + OH → HNO3


Sedangkan pada malam hari terjadi reaksi antara Nitrogen dioksida dengan ozon.


NO2 + O3 → NO3 + O2


NO2 + NO3 → N2O5


N2O5 + H2O →  HNO3


Didaerah peternakan dan pertanian akan concong menghasilkan asam  pada tanahnya mengingat kotoran hewan banyak mengandung NHdan tanah pertanian mengandung urea. Amoniak di tanah semula akan menetralkan asam, namun garam-garam ammonia yang terbentuk akan teroksidasi menjadi asam nitrat dan asam sulfat. Disisi lain amoniak yang menguap ke udara dengan uap air akan membentuk ammonia hingga memungkinkan penetralan asam yang ada di udara. HNO3 sangat asam dan larut dengan baik sekali. Selain itu juga merupakan asam keras dan reaktif terhadap benda-benda lain yang menyebabkan korosif. Oleh sebab itu, presipitasinya akan merusak tanaman terutama daun (Manahan, 1994 dalam Rahmawaty, 2002).

2.2.3.      Pembentukan Asam Chlorida (HCl)



Asam  klorida  biasanya  terbentuk  di  lapisan  stratosfer,  dimana  reaksinya  melibatkan

Chloroflorocarbon (CFC) dan radikal oksigen O*


CFC + hv(UV) → Cl* + produk CFC + O* → ClO + produk O* + ClO → Cl* + O2
Cl + CH4 → HCl + CH3


Reaksi diatas merupakan bagian dari rangkaian reaksi yang menyebabkan deplesi lapisan ozon di stratosfer. Perbandingan ketiga asam tersebut dalam hujan asam biasanya berkisar antara
62 persen oleh Asam Sulfat, 32 persen Asam Nitrat dan 6 persen Asam Chlorida.


Pulau Jawa memiliki tingkat emisi penyebab hujan asam tertinggi di Indonesia, terutama disebabkan oleh sebagian besar kegiatan perekonomian yang terpusat di pulau ini. Pada tahun
1989, tingkat precursor SOx di Indonesia mencapat 157.000 ton per tahun, sedangkan NOx mencapai 175.000 ton per tahun. Kota Surabaya pada tahun 2000 tercatat mengemisikan 0,26 ton SO2 dan 66,4 ton NOx ke udara dari berbagai sumber pencemar (Musfil A.S., (2008) dalam Sumahamijaya, I., (2009)).

Mekanisme proses terbentuknya hujan asam, dapat diamati pada Gambar 2 berikut:


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8Iy8XwodtOKnxKDjm-G1uKh83wdinfSbg6sY73mgbsqM7gZoRsKKMaBPIji0dT-a2TdnCJu9Rc7Mc2OGW_2MASyrFVVrh4qolbRgu3PrhuTr3Vb_-lMLWMf8oHwHeyBJp9TgNeMEjMr3c/s1600/merapi.png


Gambar 1. Mekanisme Terbentuknya Hujan Asam


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGZbM1SLGIbKjogTRx2aMTuFzf3BfjFIT9GyFDEAigpQ838ZeHOAxm8U8AP7tYvFxJmp6SUjiajcRjuOiZxY7je1IxPx4m08ZHPMjn8OQeLizZ4Y8iEspXdNyIv-mISeK-QVRgR8Je1x1V/s1600/asam.png


Gambar 2. Mekanisme Terbentuknya Hujan Asam


Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.  Hujaasam  karena proses industri  telah  menjadi  masalah  yang  penting di  Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah di arahan anginnya. Hujan asam dari pembangkit tenaga listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak hutan-hutan di New York dan New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.

Bukti  terjadinya  peningkatan  hujan  asam  diperoleh  dari  analisa  es  kutub.  Terlihat turunnya kadar pH sejak dimulainya revolusi industri dari Ph 6 menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain diperoleh dari organisme yang dikenal sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-tahun, organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam lapisan-lapisan sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan meningkat pada pH tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar kolam akan memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-masing lapisan tersebut.

Sejak dimulainya Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida ke atmosfer turut meningkat. Industri yang menggunakan bahan bakar fosil, terutama batu bara, merupakan sumber utama meningkatnya oksida belerang ini. Pembacaan pH di area industri terkadang tercatat hingga 2,4 (tingkat keasaman cuka). Penggunaan cerobong asap yang tinggi untuk mengurangi polusi lokal berkontribusi dalam penyebaran hujan asam, karena emisi gas yang dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi udara regional yang memiliki jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam terjadi di daerah yang jauh dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegunungan cenderung memperoleh lebih banyak karena tingginya curah hujan di sini.

2.3         Dampak Hujan Asam Terhadap Kehidupan Manusia dan Lingkungan

Terjadinya hujan asam harus diwaspadai karena dampak yang ditimbulkan bersifat global dan dapat menggangu keseimbangan ekosistem. Hujan asam memiliki dampak tidak hanya pada lingkungan biotik, namun juga pada lingkungan abiotik, antara lain :
·  Hujan asam adalah racun bagi makhluk hidup khususnya umat manusia, karena akan berdampak bagi kesehatan. Air hujan asam akan menyebar ke perairan seperti sungai, danau dan tempat penyimpanan air lainnya, karena pH yang terlalu rendah sangat tidak baik untuk kesehatan manusia.
·  Hujan asam dapat menghambat pertumbuhan makhluk hidup yang ada di perairan misalnya seperti ikan atau binatang yang hidup di air akan mati, karena pH yang semakin kecil dapat menghambat pertumbuhan benih-benih ikan, dan membuat ikan sulit untuk berkembang biak.
·   Hujan asam dapat memusnahkan makhluk hidup yang ada di air, penelitian menunjukan bahwa plankton tidak bisa bertahan hidup jika pH air dibawah 5. Plankton adalah salah satu makanan bagi ikan, jika plankton musnah rantai makanan di perairanpun akan terputus.
·   Hujan asam dapat merusak lingkungan dan akan menyebabkan banyak tumbuhan yang mati. Hujan asam dapat menghancurkan zat lilin yang ada pada tumbuhan. Sehingga nutrisi yang terkandung pada tumbuhan tersebut akan hilang, dan tumbuhan akan mudah terserang penyakit.
·   Hujan asam juga dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi logam dalam air. Dan juga dapat menyebabkan bangunan rusak karena berkarat.

2.4         Upaya-Upaya Untuk Mengurangi dan Mencegah Dampak Dari Hujan Asam



Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang mengandung sedikit zat pencemaran, menghindari terbentuknya zat pencemar saar terjadinya pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi.

a)     Menggunakan Bahan Bakar Dengan kandungan Belerang Rendah


Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi. Penggunaan gas asalm akan mengurangi emisi zat pembentuk asam, akan tetapi kebocoran gas ini dapat menambah emisi metan. Usaha lain yaitu dengan menggunakan bahan bakar non-belerang atau bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, misalnya metanol, etanol dan hidrogen.

b)     Pengendalian Pencemaran Selama Pembakaran


Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan Nox pada waktu pembakaran telah dikembangkan. Salah satu teknologi ialah lime injection in multiple burners (LIMB). Selain itu, bisa juga dilakukan dengan penggunaan Scrubbers. Alat ini mampu mengurangi emisi sulfur okida hingga 80-95 % (Ophardt, C.O., 2003).

c)     Pengendalian Setelah Pembakaran


Zat pencemar juga dapat dikurangi dengan gas ilmiah hasil pembakaran. Teknologi yang sudah banyak dipakai ialah fle gas desulfurization (FGD). Cara lain ialah dengan menggunakan amonia sebagai zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat dipergunakan sebagi pupuk.

d)    Mengaplikasikan prinsip 3R (Reuse, Recycle, Reduce)


Hendaknyprinsip  ini  dijadikan  landasan  saat  memproduksi  suatu  barang,  dimana produk itu harus dapat digunakan kembali atau dapat didaur ulang sehingga jumlah sampah atau limbah yang dihasilkan dapat dikurangi.

e)      Untuk mengurangi dampak buruk yang muncul dari hujan asam terhadap tanah ataupun danau dapat dilakukan dengan menambahkan zat kapur kedalam tanah atau kedalam danau. Penambahan kapur kedalam tanah maupun danau dapat menetralkan sifat asam.

f)       Melakukan Reboisasi atau penanaman kembali. Keberhasilan program reboisasi dan rehabilitasi lahan akan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas lingkungan terutama dalam aspek:

1.   Fungsi hidrologi

2.   Fungsi perlindungan tanah

3.   Stabilitas iklim mikro

4.   Penghasil O2, dan penyerap gas-gas pencemar udara

5.   Potensi sumber daya pulih yang dapat dipanen

6.   Pelestarian sumber daya plasma nutfah
7.   Perkembangbiakan ternak dan satwa liar

8.   Pengembangan kepariwisataan dan rekreasi

9.   Menciptakan kesempatan kerja

10. Penyediaan fasilitas pendidikan dan penelitian.






Pada tahun 1970 Amerika mulai mengontrol emisi SO2 dan NOx dengan peraturan pemerintah. Peraturan ini menentukan standar polutan dari kendaraan bermotor dan industri. Pada tahun 1990 kongres menyetujui amandemen untuk lebih memperketat kontrol emisi yang menyebabkan hujan asam. Amandemen tersebut tercatat mempu mengurangi pengeluaran SO2 dari 23,5 juta ton menjadi sekitar 16 juta ton. US juga merencanakan untuk mengurangi emisi NOx hingga 5 juta ton pada tahun 2010.

0 Response to "Pengertian dan Definisi Hujan Asam (Update 2018)"